Minyak Lorenzo

HUWAAAA…BLUESKY PENUH MELULUUUU…jadi kaga bisa ngepost dech…padahal banyak subjek menarik yang ada di pikiran nich….penduduk kamboja makan daging fad…sorri, tikus, iklan Nabati Sip yang-gw baru ngeh-mirip opening-nya Goggle V, trus silde-nya Tommy tentang kehidupan bumi di taun 2070, dan rekor2 mengejutkan dari Guiness World of Records top 100: dari makan cacing terbanyak, pinggang terkecil, sampe jalan di tali yg diiket di gunung setinggi 3 menara Eiffel! 

Tadi, my classmates n I watched a very inspirational movie berjudul Minyak Lorenzo. film yang dibintangi Nick Nolte dan Susan Sarandon (masih muda, ga kaya Queen Narissa di Enchanted!)  ini bukan film yang bercerita tentang kenaikan BBM, melainkan sebuah adaptasi kisah nyata tentang perjuangan sepasang ortu bernama Augusto dan Michaela Odone untuk menyembuhkan anaknya, Lorenzo Odone yang menderita penyakit ALD.   

Si kecil Lorenzo Odone dikenal sebagai anak pintar. Ketika masih berumur lima tahun, ia sudah menguasai tiga bahasa: Prancis, Inggris, dan Afrika. Lorenzo pernah tinggal selama tiga tahun di Kepulauan Komoro, Afrika Timur, bersama teman-temannya dan “abang”nya Omouri, sebelum pindah ke Amerika Serikat. Perilaku Lorenzo berubah ketika menginjak usia lima setengah tahun. Ia sering bicara ngacau di dalam kelas serta kerap meluapkan amarah tanpa alasan. Gurunya lalu melaporkan kelakuan Lorenzo kepada orangtuanya, Augusto Odone dan Michaela.

    Kemudian Augusto membawa putranya ke dokter spesialis yang berpraktek di Washington Children’s Hospital, Washington, Amerika Serikat. Lorenzo menunjukkan gejala-gejala kepikunan. Kandungan asam lemak di plasma darahnya berlebih. Lorenzo divonis menderita penyakit langka: adrenoleukodystrophy(ALD). Dokter mengatakan, sulit mengobati penyakit Lorenzo. Biasanya penderita ALD akan meninggal setelah dua tahun didiagnosis. Tak ada terapi, tak obat-obatan, dan tak ada harapan hidup.

    Dokter menganjurkan Lorenzo menjalani diet rendah lemak. Setelah ia menjalani diet, ternyata kadar asam lemak di dalam darahnya justru bertambah. Augusto (yang ternyata homo-semua cowo temennya, sampe si Omouri yang khusus dipanggil buat nemenin Lorenzo, dicium sama dia!) mencoba alternatif lain di salah sate rumah sakit di Boston. Lorenzo menjalani kemotrapi, pengobatan heradiasi tinggi. Pengobatan ini punya efek samping seperti rambut rontok, mual, dan turunnya berat badan. Ternyata terapi ini juga tidak efektif. Kondisi Lorenzo malah makin parah. He can’t breathe and swallow , he’s totally paralyzed, dan dia sering keselek ludahnya sendiri yang bisa berakibat fatal kalo telat disedot, cuz udah langsung masuk ke paru2!  Ketika akan kembali kerumah, ia mendapat panggilan dari Yayasan ALD, dan disarankan menjalani terapi diet

    Lantaran telanjur kecewa, Lorenzo memilih kembali ke Washington. Orangtua Lorenzo sibuk mencari literatur mengenai terapi ALD. Mulai dari mencari info dari buku-buku di National Institute of Health sampai mengadakan simposium (Plus party-party..hha) dengan para dokter dan sesama orangtua penderita ALD.  Hingga akhirnya, ia menemukan cairan berbentuk minyak.Yakni campuran minyak zaitun dan minyak biji tanaman rape. Kedua minyak ini mengandung asam oleat dan asam erusik. Dua bahan kimia itu kemudian diproduksi oleh dua pabrik yang berbeda. Digunakan untuk terapi ALD Lorenzo, makannya disebut Minyak Lorenzo. Ketika dicoba pada mencit a.k.a. tikus , hasilnya lumayan. Begitu pula ketika dicoba pada Lorenzo. Kadar asam lemak di dalam darahnya kembali normal. Lorenzo pun akhirnya dapat melihat dan menggerakkan jari tangannya. Ia pun bisa menjawab dengan isyarat kedipan mata, serta mulai belajar berkomunikasi dengan menggunakan komputer.  Film ini pun berakhir dengan suara hati Lorenzo yang berharap orangtuanya bisa mendengar suara anak mereka kembali, serta testimonial para anak-anak penderita ALD yang telah menggunakan Minyak Lorenzo. 

Tapi, kisah hidup Lorenzo belum berakhir sampai di sini. As time goes by, Lorenzo dapat berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat. Minyak Lorenzo pun semakin banyak digunakan dalam penyembuhan terapi ALD, dan Augusto Odone mendapatkan gelar doktor honoris causa atas penemuannya tersebut. 

Lorenzo Odone meninggal pada 30 Mei 2008, pada usia 30 tahun, lantaran kena aspiration pneumonia akibat keselek makanan en makanannya masuk ke paru2. 

Well, kisah hidup Lorenzo Odone dan perjuangan di balik penemuan Lorenzo’s Oil ini is indeed a war for knowledge and the victory of hope through perseverance. A big whole round applause! 

Tags:

One Response to “Minyak Lorenzo”

  1. fahran Says:

    critanya baguuussssss

Leave a Reply